Tabuik adalah sebuah tradisi akbar yang dirayakan di Pariaman, Sumatera Barat, setiap tanggal 10 Muharram untuk memperingati Hari Asyura. Hari ini adalah momen duka untuk wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein. Dalam perayaan ini, masyarakat mengarak berukuran raksasa, sebuah ekspresi simbolis yang kaya makna dan menjadi tontonan spektakuler.

Tradisi Tabuik berakar kuat dari budaya Syiah di Timur Tengah, namun telah beradaptasi dengan kearifan lokal Minangkabau. Ritual ini bukan hanya peringatan keagamaan, melainkan juga sebuah manifestasi budaya yang memperlihatkan harmoni antara keyakinan dan tradisi setempat, memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Pembuatan Tabuik adalah proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Dimulai dari membuat daraga (bagian bawah tabuik) hingga puncak (bagian atasnya), seluruh proses dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang sangat kuat dalam mempersiapkan ritual ini.

Pada puncaknya, dua besar, yaitu Tabuik Pasa (pasar) dan Tabuik Subarang (seberang), diarak keliling kota. Mereka bertemu di tengah kota dalam suasana yang riuh rendah dengan iringan musik dol (gendang khas Tabuik) yang menggelegar dan teriakan hoyak tabuik (menggoyang tabuik).

Arak-arakan ini menjadi ekspresi emosional yang mendalam. Masyarakat turut merasakan duka dan semangat perjuangan Imam Hussein, yang direpresentasikan melalui gerakan goyang pada. Ini adalah momen penting bagi masyarakat untuk merefleksikan peristiwa bersejarah tersebut dengan penghayatan penuh.

Meski sarat makna religius, telah menjadi daya tarik wisata budaya yang unik. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara datang untuk menyaksikan langsung kemegahan ritual ini, menjadi bagian dari ekspresi kolektif yang mendalam.

Setiap tahapan dalam memiliki makna simbolis. Mulai dari pengambilan tanah (menggambarkan awal penciptaan manusia) hingga pelepasan replika keranda ke laut (menggambarkan pengembalian semua makhluk ke asalnya), semuanya merupakan representasi filosofi kehidupan dan kematian.

Meskipun kontroversial di beberapa kalangan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam arus utama, masyarakat Pariaman teguh mempertahankan tradisi . Mereka memandangnya sebagai warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Pemerintah daerah bersama masyarakat adat dan tokoh agama berupaya menjaga kelestarian . Edukasi tentang makna sesungguhnya dan pentingnya menjaga tradisi ini agar tetap relevan di tengah modernisasi terus digalakkan, memastikan replika keranda tetap menjadi simbol.