Berbagai upaya pemadaman terus dilakukan untuk mengatasi kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah di Provinsi Riau. Bencana ini telah menyebabkan kabut asap pekat dan berdampak pada kesehatan masyarakat serta aktivitas penerbangan. Untuk mempercepat proses pemadaman, pemerintah mengerahkan sejumlah helikopter water bombing yang beroperasi nonstop, menunjukkan keseriusan dalam penanganan bencana yang seringkali terjadi di musim kemarau.

Satuan Tugas (Satgas) Udara dan Darat yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Manggala Agni dan TNI-Polri telah diterjunkan ke titik-titik api yang sulit dijangkau. Menurut Kepala BPBD Provinsi Riau, Bapak Edi Kurniawan, pada Selasa, 25 November 2025, titik api terparah ditemukan di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir, di mana lahan gambut yang kering membuat api cepat menyebar. “Kami telah mengerahkan lebih dari 500 personel gabungan di darat, dan fokus utama kami adalah melakukan sekat kanal serta pemadaman langsung di lokasi,” kata Bapak Edi.

Selain upaya di darat, peran helikopter water bombing sangat krusial. Pada pukul 08.00 pagi, Rabu, 26 November 2025, tiga unit helikopter dikerahkan dari Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin. Helikopter ini bertugas untuk menjatuhkan puluhan ribu liter air ke titik-titik api yang besar, terutama yang berada di area sulit diakses oleh tim darat. Pilot helikopter, Kapten Budianto, menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah jarak pandang yang terbatas akibat asap tebal. “Kami harus sangat berhati-hati saat menjatuhkan air, memastikan akurasinya optimal agar tidak sia-sia,” jelasnya. Intensitas pemadaman dari udara ini diharapkan dapat menekan laju kebakaran hutan secara signifikan.

Meskipun upaya pemadaman terus digencarkan, tantangan tetap besar. Cuaca yang sangat kering dan angin kencang mempercepat penyebaran api, sementara lahan gambut yang terbakar di bawah permukaan tanah (api bawah) sangat sulit untuk dipadamkan. Pihak kepolisian, yang dipimpin oleh Komandan Satgas Gakkum Karhutla, Kombes Pol. Wawan Setiawan, menyatakan bahwa mereka juga melakukan penyelidikan intensif untuk menemukan pelaku pembakaran lahan. Hingga 27 November 2025, sudah ada beberapa orang yang ditangkap dan dimintai keterangan terkait dugaan pembakaran yang disengaja. “Kami tidak akan mentolerir tindakan yang merusak lingkungan dan menyebabkan kebakaran hutan,” tegas Kombes Wawan.

Upaya penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada pencegahan. Sejak 1 Oktober 2025, Satgas telah mendirikan pos-pos pemantauan di desa-desa rawan kebakaran dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan di Riau adalah operasi multisektor yang melibatkan berbagai instansi dan komunitas lokal. Semua pihak berharap, dengan koordinasi yang kuat dan kerja keras, bencana ini dapat segera teratasi sepenuhnya.