Persoalan sosial di kota besar seperti Medan sering kali menunjukkan keterkaitan erat antara kondisi ekonomi keluarga dengan tingkat kekerasan yang terjadi di dalamnya. Fenomena kemiskinan Medan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah, nyatanya memberikan beban psikologis yang berat bagi para kepala rumah tangga. Tekanan ekonomi yang menghimpit, ditambah dengan ketidakpastian penghasilan harian, sering kali menjadi pemicu utama meledaknya emosi yang berujung pada tindakan kekerasan terhadap istri dan anak-anak di bawah satu atap.

Kondisi dapur yang tidak lagi mengepul akibat kesulitan finansial sering kali memicu konflik verbal yang dengan cepat eskalasi menjadi kekerasan fisik yang brutal. Masalah kemiskinan Medan ini menciptakan sebuah lingkaran setan, di mana kemiskinan memicu stres, stres memicu kekerasan, dan kekerasan itu sendiri akhirnya menghambat produktivitas keluarga untuk keluar dari jerat ekonomi. Banyak korban yang terjebak dalam situasi ini merasa tidak berdaya untuk melapor, karena mereka sangat bergantung secara finansial kepada pelaku kekerasan yang merupakan pencari nafkah utama.

Pemerintah Kota Medan perlu melihat bahwa penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak bisa dilepaskan dari program pengentasan masalah kemiskinan Medan secara menyeluruh. Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan, khususnya para istri, menjadi langkah krusial agar mereka memiliki kemandirian finansial dan keberanian untuk keluar dari situasi yang mengancam nyawa. Jika seorang perempuan memiliki akses terhadap modal usaha atau keterampilan kerja, maka ketergantungan yang menjadi akar pembiaran kekerasan dapat perlahan-lahan dipangkas hingga tuntas.

Selain intervensi ekonomi, edukasi mengenai pengelolaan emosi dan manajemen keuangan keluarga juga sangat penting untuk diberikan kepada masyarakat di kantong-kantong pemukiman padat. Sering kali, dampak dari kemiskinan Medan diperparah dengan kurangnya literasi cara menghadapi tekanan hidup tanpa harus melampiaskannya melalui jalur kekerasan. Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk meredam potensi konflik domestik dengan memberikan pemahaman bahwa kemiskinan bukanlah alasan legal untuk melakukan penyiksaan terhadap anggota keluarga sendiri.

Membangun Medan yang sejahtera berarti harus memastikan setiap warganya merasa aman di dalam rumah mereka sendiri tanpa bayang-bayang kelaparan maupun pukulan. Penanganan kemiskinan Medan yang efektif akan berdampak langsung pada penurunan angka kriminalitas domestik yang selama ini menghantui banyak keluarga prasejahtera. Mari kita bersama-sama mendukung kebijakan yang pro-rakyat kecil agar tidak ada lagi nyawa yang terancam hanya karena persoalan perut yang kosong dan tekanan hidup yang tidak terkendali di kota ini.